Tuesday, November 17, 2009

Penambahan Asam Folat Pada Makanan Memicu Kanker


Bergen, Asam folat banyak dikonsumsi ibu hamil untuk mencegah anak cacat lahir dan terdapat juga pada beberapa makanan dan suplemen. Tapi baru-baru ini, peneliti dari Norwegia menemukan indikasi adanya risiko pertumbuhan kanker setelah pemberian asam folat.

Sejak tahun 1998, asam folat (vitamin B9) banyak difortifikasi (ditambah) pada makanan atau minuman dengan tujuan untuk mengurangi cacat pembuluh saraf pada bayi yang baru lahir. Sebanyak 40 persen orang di Amerika Serikat kini mengonsumsi suplemen yang berisi asam folat. Tapi kini, asam folat dicurigai menjadi salah satu penyebab kanker.

"Kami menemukan indikasi ketidakamanan fortifikasi asam folat dan berbagai jenis suplemennya. MAsyarakat dan produsen pangan perlu menjadikan hal ini bahan perhatian," ujar Dr Marta Ebbing dari the Department of Heart Disease at Haukeland University Hospital, Bergen seperti dikutip dari Healthday, Rabu (18/11/2009).

Ebbing menyebutkan bahwa di Norwegia, makanan tidak ada yang ditambah dengan asam folat atau dijadikan suplemen. "Itulah yang menjadikan Norwegia sebagai tempat ideal melakukan investigasi ini," katanya.

Dari hasil studi, diketahui bahwa mereka yang diberi asam folat selama kurang lebih tiga tahun, mengalami peningkatan risiko kanker sebesar 21 persen. Bahkan jika diberi selama 6 tahun, berkembang menjadi risiko kematian.

Studi yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association itu menganalisis 6.837 pasien sejak tahun 1998 hingga 2005. Hasilnya, sebanyak 341 partisipan yang diberi asam folat diketahui memiliki pertumbuhan kanker dalam tubuhnya, dan 136 partisipan meninggal dunia. Sebaliknya, mereka yang tidak diberi asam folat tidak mengalami hal itu.

Kanker yang paling banyak dilaporkan akibat konsumsi asam folat adalah kanker paru-paru, prostat, darah dan usus besar.

Meskipun peneliti Norwegia sudah membuktikan bahwa asam folat bisa meningkatkan risiko terkena kanker, namun Bettina F Drake dari Cancer Center of the Washington University School of Medicine, St. Louis mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut.

"Asam folat sudah banyak dipakai luas di semua negara. Peneliti yakin bahwa asam folat yang difortifikasi ke dalam produk makanan dan minuman untuk ibu hamil bisa mencegah anak lahir dengan cacat otak. Jadi, untuk mengatakan asam folat bisa menghasilkan kanker, butuh studi yang lebih banyak dan panjang," ujar Drake.

Meski demikian, studi ini harus tetap dijadikan bahan pertimbangan dan diharapkan bisa memicu studi lainnya tentang asam folat. Sementara itu, untuk mencegah kanker ada 3 hal yang harus dilakukan selain mempertimbangkan asam folat, yaitu berhenti merokok, konsumsi makanan yang sehat dan olahraga.

sumber: Nurul Ulfah - detikHealth

Tuesday, November 3, 2009

Testimonial Aqua


Anakku sudah aku biasakan untuk minum air putih. Di rumah, aku biasa menggunakan Aqua untuk kebutuhan minum sehari-hari. Aku membiasakan anakku Hilwa untuk minum air putih, khususnya Aqua. Dan aku tidak membiasakan anakku minum teh manis yang bisa membuatnya ompong. Untuk susu anakku, kugunakan Aqua. Pokoknya Aqua memang sudah jadi kebutuhan pokok keluargaku.

sumber: http://testimonial.aqua.com

Monday, November 2, 2009

Antibiotik Bisa Sebabkan Anak Lahir Cacat


New York, Studi terkini menyebutkan bahwa pemakaian antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih pada ibu hamil akan meningkatkan risiko anak cacat lahir. Dokter dan ibu hamil pun disarankan untuk lebih berhati-hati terhadap dua jenis antibiotik ini.

Peneliti menemukan fakta cacat lahir itu pada dua jenis antibiotik, yaitu sulfonamide (contoh: Bactrim) dan nitrofurantoins (contoh: Macrobid). Sementara itu, antibiotik penicillins dan erythromycins, yang banyak diresepkan untuk ibu hamil selama ini tergolong aman.

"Penggunaan antibiotik yang diketahui tidak aman itu harus menjadi perhatian para dokter dalam mengambil keputusan untuk menangani infeksi pada ibu hamil," ujar Dr. Krista S. Crider, dari Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, seperti dilansir Reuters, Selasa (3/11/2009).

Infeksi bakteri sangat berbahaya pada ibu hamil dan janinnya. Pemakaian antibiotik perlu lebih diperhatikan, karena studi mengenai pengaruh antibiotik terhadap ibu hamil belum banyak dilakukan.

Dalam investigasinya, peneliti menganalisis enam jenis antibiotik pada 13.000 wanita hamil yang kandungannya terdeteksi cacat dan juga 5.000 wanita hamil yang bebas dari cacat kandungan. Sebanyak 30 persen wanita dalam grup tersebut mengonsumsi antibiotik selama kehamilan, terutama pada trimester pertama.

Hasilnya ternyata, sebanyak 14 persen wanita yang melahirkan anak cacat diketahui menggunakan antibiotik beberapa bulan sebelum kehamilan dan pada trimester pertama.

Antibiotik sulfonamide terkait dengan enam jenis cacat lahir, sedangkan nitrofurantoins terkait pada empat jenis cacat. Dua jenis antibiotik ini berisiko paling banyak menghasilkan cacat lahir dibanding antibiotik lain yang risiko cacat lahirnya hanya 1 jenis.

"Penting untuk diketahui bahwa dalam setiap kehamilan, penggunaan obat-obatan akan menyebabkan setidaknya 3 persen kemungkinan cacat lahir. Namun cacat lahir yang diakibatkan oleh dua jenis antibiotik tersebut sangat langka," ujar Croder.

Cacat lahir itu antara lain ketidaknormalan jantung yang dikenal dengan hypoplastic left heart syndrome. Penggunaan sulfonamides akan meningkatkan risiko cacat tersebut hingga 4 kali lipat. Terjadi pada 1 dari 42.000 kelahiran.

Studi ini dimuat dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine dan diharapkan menjadi panduam dokter dan ibu hamil untuk menggunakan antibiotik yang lebih aman.

Sumber: Nurul Ulfah, healt.detik.com