
Bergen, Asam folat banyak dikonsumsi ibu hamil untuk mencegah anak cacat lahir dan terdapat juga pada beberapa makanan dan suplemen. Tapi baru-baru ini, peneliti dari Norwegia menemukan indikasi adanya risiko pertumbuhan kanker setelah pemberian asam folat.
Sejak tahun 1998, asam folat (vitamin B9) banyak difortifikasi (ditambah) pada makanan atau minuman dengan tujuan untuk mengurangi cacat pembuluh saraf pada bayi yang baru lahir. Sebanyak 40 persen orang di Amerika Serikat kini mengonsumsi suplemen yang berisi asam folat. Tapi kini, asam folat dicurigai menjadi salah satu penyebab kanker.
"Kami menemukan indikasi ketidakamanan fortifikasi asam folat dan berbagai jenis suplemennya. MAsyarakat dan produsen pangan perlu menjadikan hal ini bahan perhatian," ujar Dr Marta Ebbing dari the Department of Heart Disease at Haukeland University Hospital, Bergen seperti dikutip dari Healthday, Rabu (18/11/2009).
Ebbing menyebutkan bahwa di Norwegia, makanan tidak ada yang ditambah dengan asam folat atau dijadikan suplemen. "Itulah yang menjadikan Norwegia sebagai tempat ideal melakukan investigasi ini," katanya.
Dari hasil studi, diketahui bahwa mereka yang diberi asam folat selama kurang lebih tiga tahun, mengalami peningkatan risiko kanker sebesar 21 persen. Bahkan jika diberi selama 6 tahun, berkembang menjadi risiko kematian.
Studi yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association itu menganalisis 6.837 pasien sejak tahun 1998 hingga 2005. Hasilnya, sebanyak 341 partisipan yang diberi asam folat diketahui memiliki pertumbuhan kanker dalam tubuhnya, dan 136 partisipan meninggal dunia. Sebaliknya, mereka yang tidak diberi asam folat tidak mengalami hal itu.
Kanker yang paling banyak dilaporkan akibat konsumsi asam folat adalah kanker paru-paru, prostat, darah dan usus besar.
Meskipun peneliti Norwegia sudah membuktikan bahwa asam folat bisa meningkatkan risiko terkena kanker, namun Bettina F Drake dari Cancer Center of the Washington University School of Medicine, St. Louis mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut.
"Asam folat sudah banyak dipakai luas di semua negara. Peneliti yakin bahwa asam folat yang difortifikasi ke dalam produk makanan dan minuman untuk ibu hamil bisa mencegah anak lahir dengan cacat otak. Jadi, untuk mengatakan asam folat bisa menghasilkan kanker, butuh studi yang lebih banyak dan panjang," ujar Drake.
Meski demikian, studi ini harus tetap dijadikan bahan pertimbangan dan diharapkan bisa memicu studi lainnya tentang asam folat. Sementara itu, untuk mencegah kanker ada 3 hal yang harus dilakukan selain mempertimbangkan asam folat, yaitu berhenti merokok, konsumsi makanan yang sehat dan olahraga.
sumber: Nurul Ulfah - detikHealth

.jpg)




